![]() |
Penuntun Kaum Buruh
Semaoen (1920)
Sumber: Penuntun Kaum Buruh, Penerbit Jendela, 2000
Dimuat ke HTML oleh Ted S.
PENGANTAR PENULIS
Dengan ini saya mengaturkan cerita hal serikat buruh pada saudara-saudara kaum Buruh Hindia (terkarang sebelum nama Indonesia menjelma).
Bukan maksud kita menceritakan hal ini dengan ilmiah, tetapi saja
sengaja mengarang secara gampang, supaya semua kaum Buruh mengerti
dengan segera apa maksudnya buku ini.
Terutama buat propaganda, dan buat kaum Buruh yang belum punya
kumpulan serikat buruh atau serikat buruhnya belum teratur beres, maka
buku ini akan mendatangkan faedahnya kalau dipikir dan diusahakan betul
oleh kaum Buruh.
Meskipun ini buku penting buat kaum Buruh. Buruh khusus yang
terutama, tetapi juga kaum Buruh Pemerintah bisa menarik faedah dari
sini, karena mereka punya nasib dan keadaan sama saja dengan
saudara-saudaranya buruh khusus.
Moga-mogalah buku ini menjadi penuntun bagi kaum Buruh Hindia (Indonesia).
Semarang, Mei 1920
SEMAOEN
DAFTAR ISI
BAB I: Penyebab Di Indonesia Ada Perkumpulan
BAB II: Tiga Macam Perkumpulan Penting
BAB III: Tiga Maksud Didirikannya Serikat Buruh
BABI IV: Cita-Cita atau Asas Serikat Buruh
BAB V: Ikhtiar, Alat, dan Senjata Serikat Buruh
BAB VI: Badan atau Bentuk Serikat Buruh (Organisasi)
BAB VII: Politik Yang Berfaedah Bagi Serikat Buruh
BAB VIII: Modal Pergerakan (Contributie) dan Pengurusan Buku-Buku Perkumpulan (Administratie)
BAB IX: Pengawasan Di Dalam Perkumpulan
BAB X: Propaganda dan Para Pengurus Yang Terlantar
BAB I: PENYEBAB DI INDONESIA ADA PERKUMPULAN
Pada zaman sekarang di Indonesia ramai dibicarakan tentang berbagai macam "Perkumpulan" atau vereniging. Apa
sebabnya di tanah air kita sekarang muncul sekian banyak perkumpulan?
Pertanyaan memang mudah dibuat, tetapi susah untuk dijawab hanya dengan
sepatah dua patah kata. Menjawab pertanyaan ini secara jelas sama
halnya dengan menceritakan hakikat tanah air Indonesia dalam
berpuluh-puluh halaman buku. Saya tidak bermaksud menulis sejarah
Indonesia di sini, melainkan hanya akan membuka sedikit hal-hal yang
menyebabkan munculnya berbagai macam perkumpulan, saya mulai:
Ketika di Indonesia belum ada sepur atau trem (kereta api), maka
keadaan negeri ini sunyi, sepi, tentram, dan damai. Begitu juga
penduduknya (rakyatnya) yang hidup, berpikir, berbudi, serta bekerja
dengan sabar dan damai. Hampir semua rakyat Indonesia mempunyai sebidang
tanah yang memberikan penghasilan dan penghidupan baginya. Sebagian
menjadi tukang-tukang kayu, tukang emas, tukang tenun (membuat kain
tenunan, saudagar kecil, dan sebagainya). Sebagian yang lain menjadi
priyayi-priyayi yang mengatur hubungan antara penduduk yang satu
dengan penduduk lainnya, supaya tidak ada yang berbuat jahat dan
merugikan kepentingan masing-masing orang. Golongan priyayi yang
mengatur negeri itu mendapatkan imbalan berupa makanan dan penghidupan
dari rakyat. Sebagian kecil lainnya menjadi dukun-dukun, guru-guru
agama, nelayan, dan sebagainya. Pada waktu itu juga sudah ada
bermacam-macam pekerjaan dan mata pencaharian. Tetapi sifat mata
pencaharian pada waktu itu lain sekali dengan sekarang, sebab meskipun
nama pekerjaannya berbeda-beda, tetapi hampir semua orang, yang bekerja
itu merdeka dalam mengatur pekerjaannya masing-masing. Yang bertani
merdeka di ladangnya, bebas menentukan usaha sendiri, waktu untuk mulai
bekerja, lamanya bekerja, dan sebagainya, asal saja aturan-aturannya
itu cocok dengan hari, bulan, dan tahun. Yang membuat kain-kain tenun
juga merdeka mengatur pekerjaannya sendiri. Pendek kata hampir semua
penduduk merdeka dan kuasa mencari penghasilan dan penghidupan. Merdeka
mengatur sendiri pekerjaannya, "kuasa mengatur" pendapatan atau hasil
dari pekerjaan mereka. Dan karena mereka mempunyai kemerdekaan atau
kekuasaan itulah maka mereka dapat hidup damai, senang, dan sabar.
Mereka (nenek moyang kita) belum pintar atau banyak memiliki
pengetahuan yang beraneka macam sebagaimana orang zaman sekarang,
tetapi mereka hidup senang dan selamat.
"Merdeka" dan "kuasa" adalah jalan pertama guna mendapatkan "kesenangan" dan "ketenangan" dalam semua hal.
Apakah sebabnya orang-orang kuno hidup secara merdeka dan kuasa mengatur sendiri pekerjaan dan penghasilannya?
Jawab: Karena masing-masing orang mempunyai alat atau perkakas
bekerja sendiri, misalnya orang yang berladang mempunyai tanah, pacul,
bajak, dan sebagainya. Yang membuat tenunan mempunyai perkakas sendiri,
dan begitu seterusnya. Hampir semua orang mempunyai perkakas sendiri,
untuk bekerja mencari penghasilan dan penghidupan. Pada waktu itu semua
perkakas bentuknya kecil-kecil dan hanya bisa dipegang dan dipakai
untuk bekerja oleh satu orang saja. Itukah sebabnya mengapa
masing-masing orang juga merdeka dan kuasa mengatur pekerjaan dan
penghasilannya?
Hampir semua orang menjadi tuan bagi dirinya sendiri, hampir tidak
ada kaum buruh, dan kaum majikan (tuan yang memberi pekerjaan pada kaum
buruh).
Dalam zaman kuno itu hampir semua penduduk dapat bekerja dan hidup
menurut kehendaknya sendiri, sesuai dengan kepintarannya dan kesenangan
hatinya sendiri, sehingga mereka mampu mencari makan makan sendiri,
banyak atau pun sedikit. Karena hampir semua orang dalam mata
pencaharian dan penghidupannya merdeka dan kuasa, menjadi tuannya bagi
dirinya sendiri, maka pada zaman itu tidak perlu ada perkumpulan.
Sebagian besar rakyat Indonesia pada zaman kuno itu tidak merasakan
bahwa negerinya Indonesia diurus oleh rajanya sendiri atau oleh bangsa
Belanda, mereka hanya merasa hidup merdeka dalam mencari makan! Nah,
kurang apalagi? Dan karena di zaman kuno itu perkumpulan memang tidak
diperlukan, maka perkumpulan sebagaimana yang sekarang muncul begitu
banyak, tidak ada sama sekali.
Saudara-saudara sekalian sekarang sudah saya tunjukkan hal-hal yang
ada di zaman kuno yang menyebabkan tidak adanya berbagai perkumpulan
pada waktu itu.
Tetapi pada zaman sekarang ini ada berbagai macam perkumpulan. Jadi
banyaknya perkumpulan di zaman kita ini pasti ada sebabnya juga
sehingga memaksa pada orang banyak supaya mereka ikut berkumpul-kumpul.
Apa sebabnya?
Jawab: Sebab pada zaman sekarang sifat pekerjaan dan mata pencaharian
berbeda dibandingkan zaman dulu. Dulu orang merasa tidak perlu ikut
berkumpul-kumpul, tapi sekarang sangat perlu berkumpul-kumpul untuk
kehidupan dan keselamatan orang banyak. Sifat dari pekerjaan dan mata
pencaharian di zaman sekarang memaksa orang untuk berkumpul-kumpul,
berikhtiar bersama guna keperluan hidupnya.
Di Indonesia hawanya tidak begitu dingin dan meskipun kita telanjang,
asal bisa makan maka kita tentu masih bisa hidup. Terbawa oleh hawa
dingin di Eropa, penduduk di sana terpaksa berusaha lebih giat untuk
kelangsungan hidupnya daripada penduduk di Indonesia (tropis). Usaha
yang lebih keras itu sudah memberikan hasil berupa tanah yang luas,
hasil-hasil kepandaian atau perkakas dan kepandaian mencari penghasilan
untuk menjaga dan melangsungkan hidupnya.
Jadi terpengaruh oleh hawa dingin di Eropa maka penduduk di sana
lebih cepat mendapatkan kemajuan dalam kehidupannya, sedangkan karena
terpengaruh hawa panas yang sering membuai tidur dan angan-angan
manusia, maka di bagian dunia sebagaimana di Indonesia ini,
orang-orangnya kalah cepat dan terlambat mendapat kemajuan dalam
kehidupannya dan daIam menjaga kelangsungan kehidupan itu. Penduduk di
negeri yang hawanya panas justru lebih cepat menerima ilmu-ilmu gaib
sebagai suatu "agama" dan keselamatan "batin". Karena mereka
terpengaruh oleh hawa panas, angan-angan atau pikiran mereka seringkali
memikirkan dengan diam-diam semua masalah kebatinan itu. Itulah
sebabnya mengapa negeri-negeri berhawa panas seperti Arab, Hindu
(India), Tionghoa (Cina) dan sebagainya, menjadi tempat-tempat penting
dalam perkembangan ilmu gaib, atau sering dikatakan oleh Tuhan Allah
yang Maha Kuasa menjadi tempat turunnya para Nabi atau Begawan besar.
Perbedaan antara hawa yang dingin dan panas itu menimbulkan adanya
perbedaan dalam hal cepat dan lambannya kemajuan lahir dan batin.
Daerah dingin seperti Eropa mengalami kemajuan lahir atau kemajuan
hidup di dunia secara cepat, sedangkan daerah panas mempercepat
kemajuan batin, kesabaran hati, dan halusnya budi.
Begitulah, terpengaruh oleh hawa dingin tadi maka ketika orang-orang
di Indonesia belum mengetahui bentuk senapan, di Eropa sudah ada
bedil. Selain itu ketika di Eropa sudah ada sepur atau trem (kereta
api), di Indonesia belum ada kecuali dokar, kereta (kuda) atau cikar.
Dulu di Eropa sudah ada pabrik-pabrik (mesin-mesin) kain, pabrik
meriam, pabrik besi, pabrik perkakas rumah, kapal api dan sebagainya,
tetapi di Indonesia masih sunyi dan belum ada berbagai alat atau
perkakas kerja sebagaimana di Eropa.
Karena Indonesia sebelumnya sudah kalah dalam kemajuan perkakas kerja
dan alat pendukung mata pencaharian serta penjagaan atas kehidupan itu,
maka ia dalam perkara lahir "takluk untuk sementara waktu". Begitulah,
Indonesia sampai sekarang masih takluk pada Belanda, tetapi akhirnya
akan dapat terlepas juga kalau rakyat di sini sudah cukup pintar untuk
menuntut atau menyamai kepintaran dan kepandaian orang Eropa.
Kelak kemajuan lahir ini akan membawa perubahan baru dalam kehidupan
penduduk Indonesia yang terbelakang. Kain-kain, cangkir, piring, dan
sebagainya dapat didatangkan dari Eropa ke sini dengan menggunakan
kapal-kapal api, dan kopi, teh, beras, tembakau, gula, dan sebagainya
bisa dibawa dari Indonesia ke Eropa. Jadi di sini terjadi "tukar
menukar penghasilan" dan karena Indonesia kalah dalam pengadaan
alat-alat penunjang kehidupan, seperti senjata meriam, bedil, dan
sebagainya, maka Indonesia seringkali rugi dan kalah kuat dalam tukar
menukar penghasilan itu. Akibatnya, Indonesia terpaksa dikuasai oleh
Belanda untuk sementara waktu, yaitu selama ia masih kalah pintar atau
kalah pandai dalam hal ilmu dan pengetahuan lahir.
Pertukaran barang antara Eropa dan Indonesia menimbulkan "perdagangan
yang ramai" . Begitulah, muncul pusat-pusat perdagangan dan kota-kota
besar seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Di kota-kota ini semua
barang-barang yang akan diperdagangkan (ditukarkan) di dalam negeri dan
dikumpulkan di gudang-gudang itu pasti milik banyak saudagar. Kaum
saudagar ini pada zaman dulu kebanyakan adalah orang Tionghoa, yang
membuka toko atau tempat penjualan dan pembelian (penukaran)
barang-barang. Semakin lama maka barang-barang yang diperdagangkan
dari Eropa semakin banyak dan bersamaan dengan makin bertambahnya
barang-barang itu, maka nafsu saudagar-saudagar untuk mencari
keuntungan pun semakin besar juga, sehingga hal ini ikut menambah
kepandaian mereka dalam usaha mencari keuntungan atau kekayaan itu.
Rakyat Indonesia yang sabar dan halus budi tidak ikut-ikutan bernafsu
besar sebagaimana bangsa-bangsa lain dalam mencari tambahan kekayaan
itu, sehingga rakyat kita sendiri sampai sementara waktu kalah
berusaha, rakyat Indonesia dalam hal urusan perdagangan tidak begitu
maju seperti halnya orang Tionghoa.
Kaum saudagar dari Belanda, karena kepandaiannya dapat berkuasa dan
memerintah wilayah Indonesia. Dengan kekuasaannya itu perdagangan mereka
dikembangkan untuk lebih maju, antara lain karena dibangunnya
jalan-jalan raya, seperti jalan raya dari Serang sampai Banyuwangi.
Pada zaman kuno juga dikenal adanya "paksaan" untuk menanam kopi (cultuurstelsel),
yaitu suatu aturan untuk memajukan perdagangan atau pertukaran barang
antara pihak Eropa dan Indonesia. Kaum saudagar pada waktu itu sudah
memahami bahwa dengan semakin maju dan pesatnya perdagangan, maka
mereka bisa bertambah kaya. Keinginan ini mendorong usaha dan tindakan
pengadaan sepur dan trem (kereta api) di tanah air kita ini. Dengan
adanya sepur dan trem maka perdagangan di Indonesia terbuka lebar.
Begitulah, sesudah ada sepur dan trem maka perdagangan atau pertukaran
barang-barang dari Eropa ke Indonesia atau sebaliknya akan bisa semakin
cepat, sehingga keuntungan kaum saudagar itu pun bisa bertambah besar
pula.
Di antara kita mungkin ada yang bertanya-tanya apa sebabnya nenek
moyang kita (orang-orang kuno) pada waktu itu suka menukarkan
barang-barang yang dihasilkannya dengan barang-barang dari Eropa?
Pertanyaan ini bisa dijawab dengan penjelasan bahwa Eropa (daerah
berhawa dingin) sebagaimana sudah saya terangkan di atas, lebih
memiliki kepintaran dan kepandaian dalam kehidupannya. Karenanya,
orang-orang di sana pintar membuat barang-barang yang unik, bagus,
murah, dan halus. Sudah barang tertentu nenek moyang kita yang tertarik
dengan keunikan, keindahan, dan kehalusan barang-barang dari Eropa itu
kemudian merasa senang berdagang dan menukarkan barang-barang produksi
Indonesia. Selain itu kita juga kalah dalam hal persenjataan sehingga
gampang dipaksa menukarkan barang-barang pada orang-orang Eropa.
Sekarang ada seratus orang lainnya lagi mengecap kain dengan mesin
cap. Mereka dalam satu bulan bisa memproduksi kain yang sudah dicap
kira-kira 1000 lembar. Jelaslah kiranya bahwa pekerjaan yang dilakukan
oleh 100 orang yang bekerja hanya dengan tangan kalah 10 kali lipat
dibandingkan dengan 100 orang lainnya yang bekerja dengan menggunakan
mesin.
Untuk menyamai jumlah produk hasil mesin, maka 100 orang yang
membatik itu harus bekerja selama 10 bulan. Jika orang yang bekerja
dengan menggunakan mesin cap dapat bekerja dan bertahan hidup serta
mendapatkan gaji dalam satu bulan, maka orang yang bekerja dengan
membatik harus hidup dan mendapatkan upah dengan menunggu selama sepuluh
bulan. Jelaslah bahwa ternyata ada resiko tertentu dari pekerjaan yang
hanya menggunakan tangan saja, sehingga dengan demikian harga barang
yang dibuat dengan mesin bisa lebih murah daripada barang yang dibuat
dengan menggunakan tangan. Semakin baik mesin dan pabriknya, semakin
mampu pula mereka membuat barang-barang yang bagus, halus, unik, dan
murah.
Itulah sebabnya mengapa pertukaran barang-barang antara Eropa dengan
Indonesia bisa maju, dan perdagangan di Indonesia bisa ramai, makin
lama makin ramai dengan adanya sepur, trem, kapal api, dan sebagainya.
Perdagangan pun berjalan semakin pesat. Keadaan di Indonesia semakin
ramai, dan keuntungan serta kekayaan yang didapatkan semakin bertambah,
terutama untuk para saudagar dan para pemilik pabrik.
Tetapi di mana ada untung, di situ pasti ada rugi. Di mana ada yang
kaya, di situ ada yang miskin. Karena yang menjadi kaum saudagar dan
tuan pabrik kebanyakan adalah bangsa lain, sedangkan rakyat Indonesia
cenderung bersabar dan tidak begitu bernafsu mengeruk kekayaan, maka
yang rugi dan menjadi miskin adalah rakyat Indonesia. Begitulah, karena
faktor alam atau hawa suatu negara maka rakyat Indonesia sekarang
semakin miskin dan melarat dibandingkan zaman dahulu.
Tetapi perdagangan yang ramai seperti dijelaskan di atas juga
menimbulkan hal lain bagi kehidupan penduduk Indonesia, terutama
kehidupan rakyat. Rakyat Indonesia tidak saja kehilangan kekayaannya
yang dulu-dulu tetapi juga kehilangan pekerjaan klasiknya, yaitu
menenun kain, menjadi tukang yang membuat hiasan rumah, dan sebagainya,
karena barang-barang sekarang dibuat dengan mesin, sehingga bisa
lebih murah dan lebih bagus.
Perdagangan semakin ramai dan maju, kaum saudagar dan para pemilik
pabrik di Eropa pun semakin kaya, sehingga kekayaan kemudian bisa
diputar untuk modal mendirikan pabrik-pabrik baru di semua benua Eropa.
Selain itu di Eropa juga sudah banyak pabrik yang memproduksi
mesin-mesin baru, jumlah mesin-mesin baru makin lama makin banyak,
sehingga tidak bisa dijalankan semuanya di Eropa. Surplus kekayaan modal
atau uang di Eropa itu mendorong pada saudagar Eropa untuk menanam
modalnya di Indonesia, yaitu dengan mengadakan perkebunanteh, kopi,
tembakau, karet, dan sebagainya. Begitulah maka tanah pertanian dan
ladang milik rakyat Indonesia warisan nenek moyang kita, akhirnya
terdesak oleh perkebunan-perkebunanitu.
Selain surplus uang, Eropa juga surplus mesin atau alat-alat
industri, sehingga kaum saudagar Eropa yang ada di Indonesia lalu
dapat membuat atau mendirikan pabrik. Maka, berdirilah pabrik-pabrik
gula, penggilingan padi, dan lain-lain.
Adanya pabrik-pabrik gula memaksa para pemilik pabrik untuk menyewa
tanah milik petani dan menyuruh petani itu bekerja dan berkuli (buruh)
di tanah-tanah sewaan itu. Oleh karena itu maka terdesaklah pekerjaan
bercocok tanam secara kuno (pekerjaan "tani merdeka") oleh pekerjaan
pabrik-pabrik itu.
Jadi perdagangan Eropa berbalik arah ke Indonesia, seperti tampak dari adanya sepur, trem, kapal api; berdirinya perkebunan-perkebunankopi,
karet, tembakau; dan berdirinya pabrik-pabrik gula, penggilingan padi,
dan sebagainya. Hal ini jelas-jelas membuat penduduk Indonesia
semakin miskin dan mendesak hampir semua pekerjaan merdeka yang dulu
diusahakan oleh nenek moyang kita.
Jadi nyatalah, bahwa kemajuan dan keramaian di Indonesia pada zaman
sekarang ini mendesak kemerdekaan mata pencaharian kuno, sehingga
kesabaran, ketentraman, kesenangan, dan kedamaian nenek moyang kita
juga akhirnya terdesak dan sirna. Karena itu pula penduduk Indonesia
sekarang selalu ribut dari hari ke hari dalam kehidupan yang sukar,
serba susah dan khawatir ini.
Apa sebabnya sekarang kita hidup dalam suasana penuh keributan,
kesukaran, dan kesusahan? Sebab kita kehilangan kemerdekaan untuk
mengatur sendiri pekerjaan kita, karena hal yang menyenangkan itu sudah
terdesak oleh mesin-mesin dan pabrik-pabrik baru. Suatu model baru
yang muncul bersamaan dengan terdesaknya mata pencaharian kuno oleh
perdagangan yang diramaikan oleh sepur, trem, perkebunan-perkebunan, pabrik,
kapal api, dan sebagainya. Maka mulai terbuka pula bagi rakyat di
Indonesia pekerjaan lainnya yaitu kerja sebagai buruh. Ramainya
perdagangan memaksa orang untuk bisa menjadi juru tulis, klerk, mandor,
masinis, dan sebagainya. Karena itu pula di lndonesia lalu didirikan
sekolah-sekolah agar perdagangan yang ramai itu mampu mencukupi
kebutuhannya.
Sekolah-sekolah dibuka, rakyat memperoleh pengetahuan dan
pengertian, terus pikirannya dan pandangannya terbuka, kemudian mereka
bangkit, dan sejak itu pula rakyat sering berkumpul (begandring)untuk
merumuskan usaha-usaha agar kerusakan-kerusakan di Indonesia dapat
diperbaiki. Dalam usaha itu bangsa Belanda yang bijaksana ikut membantu
rakyat. Jadi, sesudah rakyat bangkit dan sering berkumpul, maka untuk
memperkuat diri maka didirikanlah "perserikatan" (Vereniging)
atau perkumpulan. Begitulah maka pada zaman sekarang terdapat banyak
perkumpulan rakyat Indonesia yang sama-sama bermaksud memperbaiki semua
kerusakan, baik tanah air maupun penduduknya. Jadi munculnya sekian
banyak perkumpulan disebabkan adanya pengaruh perubahan dalam kehidupan
rakyat Indonesia sebagaimana saya terangkan diatas.
BAB II: TIGA MACAM PERKUMPULAN PENTING
Perkumpulan yang mengajak orang untuk berusaha secara bersama-sama
itu terdiri dari tiga macam perkumpulan yang penting, sebab
kerusakan-kerusakan dan kesulitankesulitan dalam kehidupan rakyat juga
berasal dari tiga hal:
- Perdagangan yang ramai dikembangkan juga oleh pemerintah pribumi, dan sebaliknya cara memerintah negara juga dilakukan sesuai dengan keperluan perdagangan. Perdagangan sudah membuka desa-desa yang dulunya tertutup, sudah menyebarkan penduduk dari satu desa ke desa lain atau kota lain. Perdagangan juga memaksa diadakannya aturan-aturan pemerintah yang cocok dan dapat melayani keperluan niaga. Oleh karena itu dengan semakin ramainya perdagangan di Indonesia maka semakin rumit pula mengaturnya, begitu pula dengan biaya untuk mengatur semua itu semakin bertambah. Peraturan pemerintah dalam zaman perdagangan rantai ini dapat merugikan kepentingan rakyat. Bisa jadi hanya akan lebih memperhatikan kepentingan kaum saudagar besar saja. Hal-hal itu mungkin saja terjadi seandainya tidak ada pertimbangan dalam jalannya pemerintahan itu. Agar rakyat tidak benar-benar hancur maka harus ada aturan tentang pemerintahan. Atas dasar itu pula maka berdirilah perkumpulan-perkumpulan politik: seperti, ISDP, SI, dan sebagainya. Perkumpulan-perkumpulan politik itu berniat menyusun kekuatan dengan kelompok-kelompok lain supaya memiliki pengaruh dan mampu memerintah. "Perkumpulan-perkumpulan adalah suatu alat yang membangkitkan rakyat dan penduduk Indonesia supaya mereka turut memikirkan dan berikhtiar mewujudkan pemerintahan atau aturan kenegaraan yang adil serta dapat memenuhi kebutuhan semua orang, bukan kepentingan satu pihak saja.
- Ada yang mempunyai pemikiran bahwa perdagangan yang diurus seperti sekarang hanya akan menguntungkan kaum saudagar saja, sedangkan manusia yang bukan saudagar mengalami kerugian, hidupnya menjadi susah dan sukar. Oleh sebab itu maka manusia yang mau menjaga kepentingan orang-orang yang bukan saudagar (yaitu orang Indonesia pada umumnya), kemudian mengajak untuk berikhtiar supaya yang bukan saudagar itu bisa mengurus sendiri perdagangan di Indonesia lewat kerja sama dengan teman-temannya untuk mendirikan koperasi. Koperasi itu kalau memang dijalankan, diurus betul-betul, dan menguntungkan orang-orang yang bukan saudagar (konsumen), maka koperasi setiap tahun akan membayar keuntungannya pada para langganan. Jadi laba koperasi dibagikan pada semua orang, tidak hanya pada orang yang mempunyai uang saja.
- Ada pula yang berpendapat bahwa kaum buruh hidupnya sangat sulit, sebab hasil perdagangannya sebagian diambil menjadi keuntungan kaum majikan atau keuntungan bagi orang yang memberi pekerjaan padanya. Oleh sebab itu kaum buruh kemudian bersama-sama mendirikan perkumpulan dalam pekerjaannya, bersama-sama dengan semua kaum buruh agar mereka semakin kuat dan meminta keadilan atas hasil kerjanya. Jangan sampai kaum majikan saja yang semakin kaya, sedangkan kaum buruhnya hidup miskin. Perkumpulan-perkumpulan inilah yang dinamakan Vakbond atau Vak Vereniging atau Serikat Buruh. Jadi ketiga jenis perkumpulan, baik yang bernuansa politik, koperasi, maupun serikat buruh (Vakbond), sama-sama menjaga, memperbaiki, dan memakmurkan rakyat Indonesia. Karena saya tidak bermaksud menerangkan hal-hal yang berkaitan perkumpulan politik dan koperasi, maka saya menuIis sedikit hal ini di atas hanya dengan maksud agar saudara-saudara pembaca tahu bedanya antara perkumpulan politik, koperasi, dan serikat buruh. Oleh karena tiga macam perkumpulan yang berbeda-beda cara dan usahanya itu sama-sama bermanfaat untuk negara yang perdagangannya sangat ramai. Semua pembaca harus ikut serta dalam ketiga perkumpulan itu. Hanya jika akan memasuki perkumpuIan politik rakyat harus berhati-hati, nanti akan saya terangkan kenapa rakyat mesti hati-hati. Sekarang terlebih dulu saya akan menerangkan maksud dan usaha-usaha serikat buruh.
BAB III: MAKSUD DIDIRIKANNYA SERIKAT BURUH
A. Sebab-sebab Munculnya Serikat Buruh
Sebelum saya menerangkan maksud-maksud serikat buruh , maka harus
diketahui lebih dahulu apa yang menyebabkan munculnya serikat buruh.
Dalam bab I sudah saya terangkan sebab-sebab umum yang menimbulkan
perubahan besar dalam kehidupan rakyat Indonesia, sedangkan dalam bab
II sudah saya terangkan sedikit tentang serikat buruh (Vakbond) atau serikat pekerja (Vak Vereeniging). Di situ anda dapat mengetahui bahwa Vak adalah suatu perkumpulan dalam bidang pekerjaan, jadi yang menyebabkan adanya Vakbond adalah karena kesamaan pekerjaan.
Apa sebabnya orang yang bekerja itu sama-sama berkumpul?
Jawab: Dalam zaman perdagangan rantai ini, seperti dijelaskan dalam
Bab I, terbukalah pekerjaan sebagai kaum buruh yang mempunyai
bermacam-macam pangkat dan nama. Misalnya di perusahaan percetakan ada
buruh yang berpangkat letter-setter, pencetak, dan sebagainya. Di
pabrik gula berpangkat mandor, kometir, kuli, dan sebagainya. Di
bengkel berjuluk tukang besi, bas, dan sebagainya. Di jawatan kereta api
dan trem ada yang berpangkat masinis, stokker remmer, kondektur,
klerk, baan, kuli, dan sebagainya.
Mereka semua sama-sama bekerja dan mendapatkan bayaran atau upah.
Bayaran itu sebagai hasil atas pekerjaan yang dilakukan kaum buruh.
Siapa yang memberi pekerjaan dan bayaran pada kaum buruh itu?
]awab: Saudagar (majikan) atau sekumpulan majikan yang mempunyai
percetakan, pabrik gula, bengkel, kereta api, trem, dan sebagainya.
Jelaslah bahwa dalam hal ini adanya perbedaan derajat (kelas):
- Mereka yang bekerja sebagai buruh (golongan yang bekerja dan mendapat bayaran).
- Mereka yang berusaha (berdagang) sebagai majikan yang memberi pekerjaan dan bayaran pada kaum buruh.
Dua kelas ini satu sama lain tidak bisa saling menyesuaikan kehendak,
usaha, dan maksud-maksudnya. Kelas buruh berusaha untuk mencukupi
kehidupan diri dan keIuarganya, berikhtiar supaya bisa mendapat
pekerjaan yang layak.
Tetapi kelas majikan justru berikhtiar mencari keuntungan dari
perusahaannya (perdagangan atau pabrik) dan mereka akan mendapat untung
bila orang-orang yang menjadi buruhnya bisa memberi keuntungan,
misalnya mereka senang menerima upah rendah, suka bekerja berat, dan
sebagainya.
Usaha-usaha kelas majikan menarik keuntungan dari kaum buruh bisa
diumpamakan begini: Kelas majikan membeli pekerjaan kaum buruh dan
buruh menjual pekerjaannya pada kelas majikan. Sebagaimana di pasar ada
transaksi jual beli, maka dalam konteks itu pun ada yang rugi dan ada
yang untung.
Siapa sekarang yang rugi dan yang untung? Kelas majikan atau buruh?
Kalau di pasar lebih banyak pembeli daripada yang berjualan, dan
banyak pula barang yang dijual, maka penjualnya bisa memperoleh laba
karena mereka bisa berjualan semahal-mahalnya. Jadi selama kaum buruh
yang menjual tenaga dan jumlahnya sedikit, maka kaum buruh bisa
mendapat untung (upah besar) sebab kaum majikan terpaksa membayar semua
permintaan buruh.
Tetapi kalau yang berjualan atau yang dijual lebih banyak daripada
yang membeli, tentu barang jualan itu jadi murah, sebab kalau tidak
begitu tidak bisa laku. Jadi kalau banyak kaum buruh yang menjual
tenaganya maka yang untung adalah kaum majikan. Kaum buruh terpaksa
menuruti kemauan kaum majikan, sebab kalau mereka tidak menurut maka
tidak dapat pekerjaan dan tidak dapat makan atau hidup.
Sekarang pikirkan: Apakah di Indonesia sekarang banyak kaum buruh yang menjual tenaga?
Saudara-saudara bisa mengetahui dan merasakan sendiri bahwa pada
zaman sekarang terdapat lebih banyak kaum majikan pembeli tenaga
sehingga mereka bisa membayar buruh sesuka hatinya. Dengan semakin
majunya perdagangan, perusahaan, pabrik, dan mesin-mesin, maka jumlah
kaum buruhpun semakin banyak. Mereka saling berebut mendapatkan
pekerjaan (mencari pekerjaan berarti mendapatkan upah atau bayaran).
Apa sebabnya?
Begini: Dalam Bab I sudah saya jelaskan bahwa pekerjaan kuno seperti
bertani, menenun kain dan sebagainya, terdesak oleh kerja-kerja
mekanis. Begitulah, mesin-mesin dan pabrik-pabrik: mengganti dan
menghancurkan pekerjaan yang dari dulu dijalankan oleh orang-orang
kuno. Misalnya, mesin yang dijalankan oleh 100 orang bisa menggantikan
tenaga 1000 orang (ingatlah contoh pada Bab I). Jadi 9000 orang lainnya
terpaksa kehilangan pekerjaan kuno yang merdeka itu.
B. Maksud Serikat Buruh
Tadi sudah saya terangkan sebab-sebab adanya serikat buruh, dan di
situ sudah tampak maksud-maksud serikat buruh itu. Namun agar
pengertian kita akan maksud dari serikat buruh itu semakin jelas, maka
hal itu harus dibahas lebih luas lagi. Di atas sudah dijelaskan bahwa
majikan yang mendapatkan keuntungan berhadapan dengan kaum buruh yang
hidupnya sengsara.
Apa sebabnya kaum kapitalis mendapatkan laba?
Jawab: Sebab mereka kuat dan berkuasa. Mereka kuat dan perkasa karena
mempunyai perusahaan, menguasai perdagangan, pabrik-pabrik dan
lain-lain. Hal itu secara lebih tegas memperkuat mereka dalam memberi
pekerjaan dan bayaran pada kaum buruh.
Kekuatan dan Kekuasaan sebagai Ja1an Kemenangan
Kaum majikan yang membayar kaum buruh dengan upah murah kemudian
menyuruh para buruh untuk bekerja keras, sesudah itu melepas buruh
sesuka hatinya. Pendek kata kaum majikan berhasil mencapai maksudnya
yaitu terus menambah kekayaannya. Hal ini disebabkan karena sudah
menjadi kodrat bahwa kaum kapitalis selamanya hanya mencari keuntungan.
Sebaliknya kaum buruh tidak suka dikalahkan seperti itu dan mereka
berusaha melawan kaum kapitalis agar bisa hidup selamat. Kaum buruh
tidak minta kekayaan, tetapi hanya ingin hidup selamat dan tercukupi
kebutuhannya. Mereka tidak ingin bekerja terlalu berat, dilepas oleh
sesuka majikan. Untuk bisa mendapatkan gaji yang cukup maka mereka
menolak bekerja terlalu berat, dan menolak dilepas begitu saja oleh kaum
majikan. Dengan demikian usaha kaum kapitalis berlawanan dengan usaha
kaum buruh. Di mana ada hal yang berlawanan atau perbedaan usaha, maka
yang kuat dan berkuasalah yang mendapat keuntungan. Oleh karena itu
kaum buruh harus merumuskan kekuatan dan kekuasaan untuk melawan kaum
kapitalis.
Bagaimana caranya agar kaum buruh bisa kuat dan berkuasa?
Jawab: Kaum buruh punya kekuasaan untuk menjual tenaganya pada kaum
majikan. Namun kalau kaum buruh seorang diri akan melawan kaum
kapitalis tanpa menjual tenaganya tentu ia akan kalah. Begitu juga
kalau buruh seorang diri mau melawan tanpa menjual tenaganya tentu ia
akan kelelahan sebab kaum majikan masih dapat terus menumpuk kekayaan
dengan cara menyuruh kaum buruh lainnya untuk bekerja.
Supaya hal semacam ini dapat dihambat maka kaum buruh mencari
kekuatan atau kekuasaan. Secara bersama-sama, yaitu dengan jalan
bergabung ke dalam satu serikat buruh . Jadi Serikat Buruh itu berusaha
membangun kekuatan dan kekuasaan secara rukun supaya kaum buruh yang
tergabung di dalamnya bisa melawan atau menyamai kekuatan dan kekuasaan
kaum kapitalis. Jika kaum buruh dalam Serikat Buruh itu bisa
mengalahkan kaum kapitalis, maka kaum buruh bisa hidup selamat. ItuIah
maksud sebenarnya dari keberadaan serikat buruh, meskipun jalan dan
usaha untuk mencapai maksud itu berlainan, ada yang salah jalannya, ada
yang baru mendapat jalan, dan ada yang sudah mendapat jalan yang
benar.
Supaya kerukunan dalam serikat buruh tidak berubah, maka harus ada
peraturan atau ketentuan yang jelas. Bisa berupa pasal atau statuten
tentang bagaimana maksud itu akan dicapai, karena selalu ada
bermacam-macam keinginan meskipun perasaan hatinya sama. Sebagai
contoh, di bawah ini saya tulis rnacam-macam maksud serikat buruh,
misalnya seperti tersebut dalam hasal I dari Anggaran Dasar (statuten) berikut ini:
Bermaksud mengadakan perkumpulan yang didirikan atas dasar kerukunan
antar karyawan (kaum buruh). Perkumpulan ini akan memperhatikan semua
keperluan terutama keperluan lahir (harta, benda, dan penghasilan atau
rezeki) dan dengan memperhatikan ini supaya ada peraturan-peraturan
yang baik, sehingga karyawan kereta api dan trem bisa maju dan
meningkatkan budi pekerti dan martabatnya.
Maksud serikat buruh kereta api dan trem menumbuhkan kekuatan dan
kekuasaan lewat kerukunannya untuk berkumpul menjadi satu adalah agar
mereka bisa hidup selamat. Tetapi apa yang disebut keselamatan hidup
manusia dan jalan mana yang harus ditempuh agar manusia hidup selamat?
Pertanyaan ini dapat terjawab dengan meIihat cita-cita atau tujuan
perkumpulan. Dan apa hasil nyata dari kehidupan yang selamat, lebih
tegas lagi dalam azas perkumpulan? Saya akan menerangkan asas serikat
buruh dalam Bab IV berikut.
BAB IV: CITA-CITA ATAU ASAS SERIKAT BURUH
Semua orang yang hidup, termasuk juga yang menjadi buruh, harus
berusaha untuk hidup selamat. Kejelasan tentang cita-cita membuat hidup
seseorang akan selamat. Adapun yang dinamakan kehidupan selamat
biasanya adalah kalau seseorang merasa senang dan tentram, baik hati,
pikiran, maupun badannya.
- Hati atau jiwa manusia akan merasa damai dan tentram kalau ia dapat memenuhi kewajiban agama. Jiwa manusia akan terasa hidup jika memahami maksud dari agama.
- Pikiran atau ingatan manusia bisa tenang dan tentram kalau ia mendapatkan kemajuan dalam pandangan atau kalau pengetahuannya tentang berbagai hal makin meluas, sehingga pandangannya pun meluas juga. Ketenangan manusia ini disebabkan karena ia mendapatkan ilmu pengetahuan.
- Rasanya badan bisa senang dan tentram kalau badan itu bisa sehat dan kuat dengan makanan yang cukup di perut. Jadi seorang manusia dapat dikatakan benar-benar selamat kalau hati (jiwa), otak (pikiran), dan badannya mendapatkan "makanan" secukupnya, tidak kurang dan tidak lebih. Pendek kata, sempurna lahir dan batin.
- Untuk mendapatkan tiga komponen itu maka manusia dihidupkan dari lahir sampai mati, dan di sepanjang umurnya ihi oleh Tuhan Yang Maha Esa diberi tiga Bagian tempo atau masa:
- Masa anak-anak
- Masa dewasa
- Masa tua
I. Masa Anak-anak
Masa anak-anak (sejak lahir sampai usia 18 atau 23 tahun) manusia
dikodratkan untuk menyempurnakan badannya, belajar membuka pengetahuan d
an pikiran, serta mendapat ajaran tentang kebaikan hati. Pada masa ini
manusia hidup dengan orang lainnya (bapak, ibu, guru, dan yang
lainnya). Pada masa ini badan disempurnakan dengan makan, minum,
bermain, tidur, dan belajar. Jadi anak-anak tidak harus bekerja untuk
mendapatkan makanan karena kodrat dari Tuhan memang begitu. Dengan
demikian maka diharapkan anak-anak jangan sampai bekerja untuk mencari
makan sendiri.
Begitu juga kaum buruh harus berusaha untuk melarang anak-anak
bekerja mencari makan sendiri. Dalam hal ini lalu muncul pasal dalam
asas Serikat Buruh yang bunyinya demikian:
A. "Kaum majikan yang memberi pekerjaan dilarang mengambil
anak-anak (sampai usia 23 tahun) untuk dipekerjakan sebagai buruh.
Pekerjaan anak-anak harus dilarang. "
II. Masa Dewasa
Ketika orang sudah cukup umur (usia 18-23 sampai 45-55 tahun), maka
diharapkan semua manusia sudah mendapatkan pekerjaan sendiri, dan untuk
keperluan itu mereka harus bekerja dengan badan dan usahanya sendiri.
Adapun usaha itu dilakukan untuk menyempurnakan ingatan, pandangan, dan
pengetahuan (otak), sebab fisiknya sudah terlebih dulu sempurna.
Pada masa ini juga manusia harus mempelajari agama, sehingga terbuka
kebaikan jiwamya. Mereka juga harus bisa bekerja untuk mencari
menghidupi anak istrinya karena memang demikianlah kodrat Tuhan Yang
Maha Kuasa. Kaum buruh juga harus sudah mendapatkan pekerjaan ketika ia
berumur 18 sampai 55 tahun, oleh karena itu maka dalam asas Serikat
Buruh disebutkan antara lain:
B. "Kaum buruh yang mesti bekerja mulai dari umur 18 tahun sampai
55 tahun supaya jangan dibuat mainan sewenang-wenang, dihukum oleh dan
dengan sesuka hati dan dilepas secara sewenang- wenang oleh kaum
majikan, yang memberi pekerjaan pada mereka. Kaum buruh harus dihorrnati
dan dihargai dalam pekerjaannya sebagai suatu kewajiban bagi manusia.
Kalau terjadi perselisihan dalam hal ini antara kaum majikan dan kaum
buruh supaya diputuskan melalui pengadilan, yaitu kedua belah pihak
masing-masing mempunyai pembela yang dipilih oleh kaum itu sendiri,
kemudian keputusan diputuskan secara adil oleh hakim.
III. Masa Tua
Seseorang yang berumur 45 sampai 55 tahun sudah mulai merasa dirinya
tua di mana seluruh anggota badannya sudah mulai melemah serta mudah
merasa lelah. Mereka harus meluangkan waktu masa tua ini untuk
mendekatkan diri pada agama serta menyempurnakan jiwa serta kesabaran
hidup guna bekal hidup di akhirat. Adalah kodrat manusia untuk
menjalankan apa yang menjadi kehendak penciptanya yaitu Tuhan Yang Maha
Kuasa. Setiap manusia mempunyai harapan masing-masing ketika mereka
masih muda dan bekerja untuk menikmati hasil yang telah dicapai pada
masa tuanya. Dalam azas Serikat Buruh hak-hak kaum buruh ini dinyatakan
sebagai berikut:
C. "Kaum buruh yang berumur 45 tahun supaya mendapatkan pensiun
dan setiap kaum buruh berhak mendapatkan hak dari majikan mereka dalam
bentuk uang pensiun tiap bulannya sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak".
Dengan sangat jelas sudah saya tulis pasal A, B, dan C, tetapi ketiga
pasal itu belum sepenuhnya mewujudkan harapan kaum buruh. Selain
karena umur dibagi menjadi tiga masa, masing-masing masa itu dibagi
lagi menjadi tahun, minggu, hari. Bagi kaum buruh dan Serikat Buruhnya
yang diperhatikan untuk dirinya sendiri yaitu masa dewasa (18-45 tahun)
atau masa selama mereka bekerja. Berhubung dengan (kodrat) ini maka
selama harapan manusia untuk minta waktu istirahat sesudah bekerja bisa
dilakukan dalam setiap tahun, setiap minggu, dan setiap hari. Adapun
waktu istirahat itu diadakan untuk mendekatkan diri dengan melihat dan
memikirkan kesenangan apa yang sudah diperbuat dan kesenangan apa yang
akan diperbuat untuk sanak famili dan sebagainya. Sehubungan dengan hal
ini maka dalam asas Serikat Buruh disebutkan:
D.1. "Minta tiap tahun dapat perlof (libur) sedikitnya 20 hari dengan gaji penuh ".
D.2. "Minta tiap tujuh hari dapat libur satu hari".
Istirahat setiap tahun dan dalam satu minggu satu kali tentu saja
perlu, namun lebih perlu lagi mengatur waktu dalam masing-masing hari
atau dalam waktu 24 jam itu. Karena hari terdiri atas siang dan malam
dan manusia mesti tidur dan bangun, maka yang pertama diperhatikan
adalah bahwa tidur diperlukan untuk menyenangkan atau menentramkan jiwa
(batin).
Adapun waktu bangun, sebagian untuk menyenangkan pikiran atau
mengaktifkan kembali ingatan. Misalnya, jika setengah dari waktu
bangun dalam sehari dipergunakan untuk memotong kayu (kerja fisik)
maka yang setengah hari lainnya harus dipergunakan untuk berpikir, atau
menyegarkan ingatan, seperti membaca koran, membaca buku, dan
sebagainya.
